Musibah Tidak Sekadar Gejala Alam

Musibah Tidak Sekadar Gejala Alam

a man riding a skateboard down the side of a ramp
a man riding a skateboard down the side of a ramp

Wahai saudara-saudaraku…

Ada dua mata yang memandang bencana:

Mata orang beriman dan mata orang yang tidak beriman.

1. Orang yang tidak beriman

Ketika melihat banjir, tanah longsor, gempa, atau gunung meletus…

Ia berkata:

“Itu hanya gejala alam…

Hanya cuaca…

Hanya pergerakan lempeng…

Hanya siklus bumi…”

Hatinya tak bergemetar.

Jiwanya tak tersentuh.

Karena ia lupa bahwa di balik setiap sebab ada Dzat yang Maha Mengatur sebab.

Dia melihat air hujan, tapi lupa Zat yang menurunkannya.

Dia melihat tanah bergerak, tapi lupa Siapa yang memegang bumi dan langit.

2. Orang beriman

Sedangkan orang yang beriman…

Bukan hanya melihat ombak yang naik atau tanah yang bergeser.

Ia melihat pesan.

Ia mendengar peringatan.

Ia merasa teguran dari Rabbnya.

Allah berfirman:

وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

"Dan tidaklah Kami mengirim tanda-tanda itu kecuali sebagai peringatan."

(QS. Al-Isrā’: 59)

Dan Allah berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh ulah tangan manusia."

(QS. Ar-Rūm: 41)

Nabi ﷺ bersabda:

وَمَا نَقَضَ قَوْمٌ الْعَهْدَ إِلَّا سُلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوٌّ

"Tidaklah suatu kaum melanggar perintah Allah, kecuali Allah timpakan musibah atas mereka."

(HR. Ibn Mājah)

Maka orang beriman berkata dalam hatinya:

“Mungkin ada dosa yang belum kutinggalkan…”

“Mungkin ada maksiat yang belum kututup pintunya…”

“Mungkin Allah sedang memanggilku untuk kembali…”

3. Musibah datang agar kita bangun, bukan sekadar kaget

Musibah bukan untuk menyakiti kita.

Musibah adalah panggilan lembut dari Allah:

“Kembalilah kepada-Ku…

Jangan terlalu jauh…”

Seperti seorang ibu yang mengguncang bahu anaknya agar sadar

karena melihat anaknya berjalan ke tepi jurang.

Begitu pula Allah mengguncang bumi

agar kita sadar sebelum nyawa tercabut.

4. Yang paling celaka bukanlah rumah yang hancur…

Yang paling celaka bukanlah banjir yang menenggelamkan rumah.

Bukan pula tanah longsor yang menutup jalan.

Yang paling celaka adalah:

Hati yang tidak berubah setelah musibah.

Jika rumah rusak, masih bisa dibangun lagi.

Jika harta hilang, masih bisa dicari lagi.

Tapi jika hati tetap keras…

Jika maksiat masih dibuka…

Jika ibadah masih disepelekan…

Maka itulah musibah yang sebenarnya.

5. Musibah mengajarkan kita untuk kembali

Musibah bagaikan pintu yang Allah buka,

agar kita menundukkan kepala dan berkata:

“Astaghfirullah… Rabbku, aku kembali…”

Karena Allah berkata:

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ

"Maka berlarilah kalian kembali kepada Allah."

(QS. Adz-Dzāriyāt: 50)

6. Nasehat Penutup

Wahai saudaraku…

Ketika bumi bergetar

ketika banjir menelan rumah-rumah

ketika tanah longsor menutup lembah

ketika badai merobek langit…

Jangan hanya bertanya:

“Apa penyebab alamnya?”

Tapi tanyakan juga dalam hatimu:

“Apa pesan Allah untukku?”

“Dosa apa yang belum kutinggalkan?”

“Kebaikan apa yang belum kutunaikan?”

Musibah hanyalah “bahasa” Allah untuk membangunkan hamba-Nya yang terlalu lama tidur dalam kelalaian.

Semoga Allah menjadikan setiap musibah sebagai sebab taubat sebelum terlambat.

Amin.

Batam, 5 Desember 2025

Ust Yusuf Iskandar.

NB: Jangan Lupa..

1. Yuk Peduli Sumatera

2. Peduli Pembangunan Ponpes Al Hikmah, BSI 7044536867 an. BUDI ISKANDAR